Showing posts with label istilah farmasi. Show all posts
Showing posts with label istilah farmasi. Show all posts

Saturday, November 24, 2007

MEKANISME AKSI HIDROKLOROTIAZID SEBAGAI DIURETIK

MAKALAH KIMIA MEDISINAL

MEKANISME AKSI HIDROKLOROTIAZID SEBAGAI DIURETIK



Disusun oleh :
Ines Septi A. (058114061)
Margarita Krishna S. (058114062)
Maria Corazon S. (058114065)
Maria Widiastuti Dwi (058114067)
Widya Adhitama (058114069)
Linna Ferawati G. (058114070)
Bernadetta Ayu W. (058114071)
Chrisye Dewi P. (058114072)



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007



HIDROKLOROTIAZID

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di seluruh dunia. Berbagai cara pengobatan telah ditempuh untuk mengobati penyakit ini, antara lain diuretik, penghambat simpatetik, beta bloker, vasodilator, penghambat Angiotensin Converting Enzim, penghambat reseptor Angiotensin II, dan antagonis kalsium. Sistem kardiovaskuler terdiri atas jantung dan pembuluh darah serta sistem sirkulasinya
Jantung memiliki peranan penting dalam penyediaan oksigen untuk seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Organ ini melaksanakan fungsinya dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh. Dengan demikian jantung bertugas menjaga sirkulasi darah. Salah satu aspek yang penting dalam pengaturan sirkulasi darah adalah tekanan darah.
Ketidaknormalan tekanan darah dikelompokkan menjadi dua, yaitu hipertensi dan hipotensi. Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Keadaan itu terjadi jika tekanan darah pada arteri utama didalam tubuh terlalu tinggi. Sedangkan hipotensi adalah keadaan dimana tekanan darah menurun secara abnormal.
Pengobatan hipertensi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu pengobatan secara nonfarmakologis (non-obat) dan farmakologis (terapi dengan obat-obatan). Terapi tanpa obat dapat dilakukan antara lain dengan menurunkan berat badan, berolah raga, menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol. Sedangkan pengobatan secara farmakologis dilakukan dengan terapi menggunakan obat-obatan seperti golongan diuretik (hidroklorotiazid, furosemid), beta bloker (propanolol), vasodilatasi (hidralasin), dll.
Pada kesempatan ini akan dibahas lebih dalam mengenai obat antihipertensi diuretik. Secara umum, diuretik adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih melalui kerja langsung terhadap ginjal (Rahardja dan Tjay, 2002). Salah satu obat diuretik yang menjadi pilihan di dalam peresepan untuk hipertensi ringan sampai sedang adalah Hidroklorotiazid (HCTZ). HCTZ merupakan derivat sulfonamid golongan benzothiazine (thiazid). Ditemukan tahun 1959, dalam penelitian penghambat karbonat anhidrase (ekskresi ion natrium dan klorida di dalam kemih) yang lebih poten. Efek diuretisnya lebih ringan dari diuretika lengkungan tetapi bertahan lebih lama, 6-12 jam sehingga daya hipotensifnya lebih kuat (jangka panjang).

(Rita, 05-062)
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam makalah adalah:
Bagaimana mekanisme aksi Hidroklorotiazid di dalam tubuh dalam menimbulkan efek sebagai diuretika?

C. BATASAN MASALAH
Dalam penelitian ini penulis memberi batasan pembahasan hanya pada mekanisme aksi Hidroklorotiazid, sehingga aksi langsung dari obat diuretika yang termasuk golongan lain tidak menjadi bahasan.

D. TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme aksi Hidroklorotiazid di dalam tubuh sehingga mampu menimbulkan efek sebagai diuretik.

E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Sistem Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular terdiri dari:
a. Jantung
Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol), selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua atrium mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua ventrikel juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan.
Darah yang kaya CO2 dari seluruh tubuh mengalir melalui vena kava menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan. Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui kapiler yang mengelilingi alveolus, menyerap O2 dan melepaskan CO2 yang selanjutnya dihembuskan.
Darah yang kaya akan O2 mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah diantara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner.
Darah dalam atrium kiri akan didorong ke dalam ventrikel kiri, yang selanjutnya akan memompa darah yang kaya akan O2 ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta. Darah kaya O2 ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru.
b. Pembuluh darah
Arteri membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi. Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah di antara denyut jantung. Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu.
Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis, yang berfungsi sebagai jembatan antara arteri dan vena. Kapiler memungkinkan O2 dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah.
Dari kapiler, darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri, sehingga vena mengangkut darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu di bawah tekanan.

(Widia, 05-067)
2. Hipertensi
Hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu
a. hipertensi primer
Juga disebut hipertensi ‘esensial’ atau ‘idiopatik’ dan merupakan 95% dari kasus-kasus hipertensi. Tekanan darah merupakan hasil curah jantung dan resistensi vaskular, sehingga tekanan darah meningkat jika curah jantung meningkat, restensi vaskular perifer bertambah, atau keduanya. Pada hipertensi, curah jantung cenderung menurun dan resistensi perifer meningkat. Adanya hipertensi juga menyebabkan penebalan dinding arteri dan arteriol, mungkin sebagian diperantari oleh faktor yang dikenal sebagai pemicu hipertrofi vaskular dan vasokonstriksi (insulin, katekolamin, angiotensin, hormon pertumbuhan), sehingga menjadi alasan sekunder dari hipertensi yang sudah ada telah menyebabkan penelitian etiologi semakin sulit dan observasi ini terbuka untuk berbagai interpretasi.

b. hipertensi sekunder
hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain yaitu akibat penyakit jantung/ginjal, diabetes, atau tumor dari kelenjar adrenal, obat-obatan, maupun kehamilan.

(Bernadetta, 05-071)

3. Sistem Ekskresi Ginjal
Ginjal merupakan organ terpenting pada pengaturan homeostasis, yakni keseimbangan dinamis antara cairan intra dan ekstrasel, serta pemeliharaan volume total dan susunan cairan ekstrasel. Hal ini terutama tergantung dari jumlah ion Na+, yang untuk sebagian besar terdapat di luar sel, di cairan antarsel, dan di plasma darah. Ginjal tersusun dari berjuta-juta nefron. Satu unit nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Proses diuresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli, yang terletak di korteks ginjal. Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air, garam-garam, dan glukosa. Ultrafiltrat, yang diperoleh dari filtrasi dan berisi banyak air serta elektrolit, akan ditampung di Kapsul Bowman dan kemudian disalurkan ke tubuli. Tubuli ini terdiri dari bagian proksimal dan distal, yang letaknya masing-masing dekat dan jauh dari glomerulus, kedua bagian ini dihubungkan oleh sebuah lengkungan (Henle’s loop). Di sini terjadi penarikan kembali secara aktif air dan komponen yang sangat penting bagi tubuh, seperti glukosa dan garam-garam, antara lain ion Na+. Zat-zat ini dikembalikan pada darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli. Sisanya yang merupakan perombakan metabolisme protein yang tak berguna seperti ureum dikeluarkan dari tubuh. Akhirnya, filtrat dari semua tubuli ditampung di ductus colligens, dimana terutama berlangsung reabsorbsi air. Filtrat disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun di sini sebagai urin (Rahardja dan Tjay, 2002).

(Cory, 05-065)

4. Mekanisme Kerja Diuretik
Diuretik bermanfaat dalam pengobatan berbagai penyakit yang berhubungan dengan retensi abnormal garam dan air dalam kompartemen ekstraseluler tubuh, biasanya dirujuk sebagai edema. Pada umumnya, diuretik adalah suatu zat yang meningkatkan laju ekskresi urin oleh ginjal, terutama melalui penurunan reabsorbsi tubular ion natrium dan airnya dalam tubulus ginjal yang setara secara osmotik. Penimbunan cairan berlebih dalam kompartemen ekstraseluler dapat disebabkan oleh kegagalan jantung, sirosis hati, gangguan ginjal, toksemia kehamilan, atau akibat sampingan obat (Rahardja dan Tjay, 2002).
Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli, yakni di:
a. tubuli proksimal. Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang di sini direabsorbsi secara aktif untuk lebih kurang 70 %, antara lain ion Na dan air, begitu pula glukosa dan ureum. Karena reabsorbsi berlangsung secara proporsional, maka susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretika osmotis bekerja di sini dengan merintangi reabsorbsi air dan juga natrium.
b. lengkungan Henle. Di bagian menaik Henle’s loop ini ca 25 % dari semua ion Cl- yang telah difiltrasi direabsorbsi secara aktif, disusul dengan reabsorbsi pasif dari Na+ dan K+, tetapi tanpa air, hingga filtrat menjadi hipnotis. Diuretika lengkungan terutama bekerja di sini dengan merintangi transpor Cl- dan demikian reabsorbsi Na+. Pengeluaran K+ dan air juga diperbanyak.
c. tubuli distal, di bagian pertama segmen ini, Na+ direabsorbsi secara aktif pula tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair dan lebih hipnotis. Senyawa thiazid dan klortalidon bekerja di tempat ini dengan memperbanyak ekskresi Na+ dan Cl- sebesar 5 - 10 %. Di bagian kedua segmen ini, ion Na+ ditukarkan dengan ion K+ atau NH4+; proses ini dikendalikan oleh hormon anak-ginjal aldosteron. Antagonis aldosteron (spironolakton) dan zat-zat penghemat kalium (amilorida, triamteren) bertitik kerja di sini dengan mengakibatkan ekskresi Na+ (kurang dari 5 %) dan retensi K+.
d. saluran pengumpul. Hormon antidiuretik ADH (vasopresin) dari hipofisis bertitik kerja di sini dengan jalan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel - sel saluran ini (Rahardja dan Tjay, 2002).
Scan gambar hal.597
(Linna, 05-070)

5. Penggolongan Obat-obatan Antihipertensi
Pengobatan hipertensi secara farmakologis dapat digunakan obat-obatan antihipertensi antara lain:
• Diuretik
Obat-obatan jenis ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh melalui kencing sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obat-obatan yang termasuk jenis ini adalah hidroklorotiazid.
• Beta bloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Contoh obat-obatan yang termasuk didalamnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol.
• Penghambat simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis. Contoh obat yang termasuk dalam golongan penghambat simpatetik adalah: Metildopa, Klonidin dan Reserpin.
• Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin.
• Penghambat Angiotensin Converting Enzim (ACE)
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril.
• Penghambat reseptor Angiptensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan).
• Antagonis Kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil.

(Dhita, 05-069)

6. Penggolongan Obat-obatan Diuretik
a. Diuretik lengkungan : furosemid, bumetanida, dan etakrinat.
Obat - obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan pada keadaan akut, misalnya pada udema otak dan paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis-efek curam, artinya bila dosis dinaikkan efeknya (diuresis) senantiasa bertambah.
b. Derivat thiazid: hidroklorothiazid, klortalidon, mefrusida, indapamida, xipamida (Diurexan), dan klopamida.
Efeknya lebih lemah dan lambat, juga lebih lama (6-48 jam) dan terutama digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung. Obat-obat ini memiliki kurva dosis-efek datar, artinya bila dosis optimal dinaikkan lagi, efeknya (diuresis, penurunan tekanan darah) tidak bertambah.
c. Diuretika penghemat kalium: antagonis aldosteron (spironalokton, kanrenoat), amilorida, dan triamteren.
Efek obat-obat ini hanya lemah dan khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika lainnya guna menghemat ekskresi kalium. Aldosteron menstimulasi reabsorbsi Na dan ekskresi K; proses ini sihambat secara kompetitif (saingan) oleh antagonis aldosteron.
Amilorida dan triamteren dalam keadaan normal hanya lemah efek ekskresinya mengenai Na dan K. Tetapi, pada penggunaan diuretika lengkungan dan thiazid, yang mengekskresi kalium dengan kuat, zat-zat penghemat kalium ini menghambat ekskresi K dengan kuat pula. Mungkin juga ekskresi dari magnesium.
d. Diuretika osmotis : manitol dan sorbitol.
Obat-obat ini hanya direabsorbsi sedikit oleh tubuli, hingga reabsorbsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis osmotis dengan ekskresi air tinggi dan relatif sedikit ekskresi Na. Terutama manitol, hanya jarang digunakan sebagai infus intravena untuk menurunkan cairan dan tekanan intraokuler, juga untuk menurunkan volume cairan serebrospinal dan tekanan intrakranial.
e. Perintang–karbonat hidrase : asetazolamida.
Zat ini merintangi enzim karbonat anhidrase di tubuli proksimal, sehingga di samping karbonat, juga Na dan K diekskresikan lebih banyak, bersamaan dengan air (Rahardja dan Tjay, 2002).

(Chrisye, 05-072)
7. Hidroklorotiazid
Hidroklorotiazid merupakan diuretik golongan thiazid yakni diuretik dengan potensi sedang, yang bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi natrium pada bagian awal tubulus distal.



Struktur :

Gambar 1. Struktur Hidroklorotiazid
6-Chloro-3,4-dihydro-2H-1,2,4-benzo hiadiazine-7-sulfonamide 1,1-dioxide
BM : 297,73
pKa : 7,9 – 9,2
Hidroklorotiazid mengandung tidak kurang dari 98,0% C7H8ClN3O4S2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : serbuk hablur, putih atau praktis putih; praktis tidak berbau. Kelarutan : sukar larut dalam air (< 1 dalam 10.000), mudah larut dalam larutan natrium hidroksida, dalam n-butilamina, dan dalam dimetilfornamida; agak sukar larut dalam metanol; tidak larut dalam eter, dalam kloroform, dan dalam asam mineral encer.
Indikasi : edema, hipertensi
Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia; memperburuk diabetes dan pirai; mungkin memperburuk SLE (eritema lupus sistemik); usia lanjut; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal (hindarkan bila berat); porifiria.
Kontraindikasi : hipokalemia yang refaktur; hiponatremia; hiperkalsemia; gangguan ginjal dan hati yang berat; hiperurikemia yang simtomatik; penyakit addison.
Dosis : edema, dosis awal 12,5 – 25 mg sehari, untuk pemeliharaan jika mungkin kurangi; edema kuat pada pasien yang tidak mampu untuk mentoleransi diuretika berat, awalnya 75 mg sehari.
Hipertensi dosis awal 12,5 mg sehari jika perlu tingkatkan sampai 25 mg sehari.
Usia lanjut dosis awal 12,5 mg sehari mungkin cukup.

Peringatan : penghentian pemberian thiazida pada lansia tidak boleh secara mendadak, karena resiko timbulnya gejala kelemahan jantung dan peningkatan tensi.
Efek samping :
a. Hipokalemia : yakni kekurangan kalium dalam darah. Semua diuretik dengan titik kerja di bagian muka tubuli distal memperbesar ekskresi ion-K+ karena ditukarkan dengan ion Na akibatnya kadar kalium plasma dapat turun di bawah 3,5 mmol/liter. Gejala kekurangan kalium ini berupa kelemahan otot, kejang-kejang, obstipasi, anoreksia, kadang-kadang juga aritmia jantung tetapi gejala ini tidak selalu menjadi nyata. Pemakaian HCTZ hanya sedikit menurunkan kadar kalium.
b. Hiperurikemia : terjadi akibat retensi asam urat. Menurut dugaan, hal ini disebabkan oleh adanya persaingan antar diuretikum dengan asam urat mengenai transpornya di tubuli.
c. Hiperglikemia : dapat terjadi pada pasien diabetes, terutama pada dosis tinggi akibat dikuranginya metabolisme glukosa berhubung sekresi insulin ditekan.
d. Hipernatriemia : kekurangan natrium dalam darah. Gejalanya berupa gelisah, kejang otot, haus, letargi (selalu mengantuk), juga kolaps (Dollery, 1999).
(Ines, 05-061)

BAB II
PEMBAHASAN

1. Obat-obat diuretik bekerja dengan cara memblok reabsorpsi Na+ (termasuk reabsorpsi Cl- ) pada tubulus distal dengan menghambat ikatan membran luminal Na+/Cl- cotransport sistem.
Pada kondisi normal, terjadinya reabsorpsi Na+ Cl- dengan mekanisme sebagai berikut : pada tubulus distal, adanya cotransport NaCl akan memindahkan Nacl dari cairan luminal menuju ke sel tubulus distal. Cairan luminal Cl akan dipindahkan ke atas, sedangkan cairan luminal Na akan dipindahkan ke bawah oleh cotransporter tersebut. Reabsorpsi na terjadi secara lengkap ketika ikatan membran antiluminal Na K+-ATPase diaktifkan akan memompa Na memasuki ke interstitium melalui antiluminal membran. Cl yang terdapat dalam intraseluler akan berpindah ke interstitium melalui saluran yang terdapat di membran antiluminal (Block and Beale, 2004). Hidroklorotiazid akan menghambat reabsorpsi Na pada cotransporter NaCl di membran luminal. Penghambatan reabsorpsi ini akan mengurangi tekanan osmotic pada ginjal, sehingga lebih sedikit air yang direabsorpsi oleh collecting duct. Ini akan memacu peningkatan urin.
Scan gambar dari buku hal.600

(Diskusi Kelompok)

2. Penurunan Na+ di otot polos menyebabkan penurunan sekunder pada Ca2+ intraseluler sehingga otot menjadi kurang responsif. Hal ini akan menyebabkan relaksasi otot polos arterior sehingga akan menurunkan resistensi perifer yang menyebabkan penurunan tekanan darah.
(Diskusi Kelompok)

3. Menghambat enzim karbonat anhidrase sehingga mengalami ekskresi bikarbonat dari cairan tubuler

Gambar 2. Struktur karbonat anhidrase
Karbonat anhidrase adalah enzim yang berada dalam epitel tubulus ginjal dan sel darah merah. Enzim ini mengkatalisis reaksi yang nampaknya sederhana yang akan bergeser jauh ke kiri bila tanpa enzim: 2H2O + CO2 ↔ H2CO3 ↔ HCO3- + H3O+. Dalam ginjal, proton pada H3O+ ditukar dengan ion Na+ yang akan diserap kembali. Karena itu, karbonat anhidrase berperan sangat penting dalam menjaga keseimbangan ion dan air antar jaringan dan kemih. Bila zat penghambat karbonat anhidrase menghalangi enzim tersebut di dalam ginjal, maka ion Na+ dalam filtrat tidak dapat dipertukarkan, Na+ diekskresikan berama-sama air sebagai akibat hidrasi ion dan efek osmosis.
Hidroklorotiazid mempunyai mekanisme aksi pada penghambatan kerja enzim karbonat anhidrase. Adanya enzim karbonat anhidrase pada sel tubulus akan mempermudah pembentukan ion bikarbonat. Sisi aktif dari enzim ini adalah terdapat pada ion Zn2+. Ion ini akan berinteraksi dengan 2 sisi O yang ada dalam ion bikarbonat.

Gambar 3. Mekanisme interaksi sisi aktif karbonat anhidrase dengan bikarbonat

Pada hidroklorotiazid, interaksi yang terjadi adalah pada sisi aktif enzim karbonat anhidrase yaitu pada Zn2+. Pada hidroklorotiazid terdapat atom Cl yang merupakan golongan halogen dimana golongan ini memiliki elektronegativitas yang besar dibandingkan unsur golongan lain. Dengan kondisi bahwa Zn2+ memiliki kecenderungan elektropositif yang besar maka Zn2+ akan lebih memillih terikat dengan Cl daripada dengan O. Unsur O pada golongan VIA yang relatif kurang elektronegatif dibanding dengan Cl. Kemudian Zn2+ juga akan terikat pada O yang berikatan rangkap dengan S secara koordinasi. Dengan demikian Zn2+ akan membentuk kelat 5 ikatan.

Gambar 4. Interaksi karbonat anhidrase dengan Hidroklorotiazid

A. B.

Gambar 5. interaksi pada sisi reaktif hipoptetikal pada karbonat anhidrase

Ketika enzim karbonat anhidrase lebih beraktivitas pada hidroklorotiazid, maka ion bikarbonat yang terbentuk akan berkurang. Padahal ion ini yang akan berhubungan dengan keberadaan Na+ dalam tubulus, dan lebih jauh lagi akan cenderung bersifat menarik air. Saat keberadaan Na+ berkurang di dalam tubuh maka air akan banyak dikeluarkan lewat urin.

Adanya benzen akan menstabilkan molekul. Dengan ikatan kovalen koordinasi Zn2+ pada O ikatan rangkap, maka S juga akan dipengaruhi, maka benzena akan melakukan resonansi untuk kestabilan molekul itu sendiri. Dilihat dari strukturnya yang nonpolar, hidroklorotiazid akan lebih larut dalam lipid dan kurang larut air sehingga bisa bekerja dengan lebih baik pada sel-sel tubulus distal.

(Diskusi Kelompok)




Gambar 6. Antaraksi Kimia yang Normal dalam Tubulus Ginjal

Jaringan sel tubulus ginjal filtrat glomerolus


H2O + CO2 karbonat anhidrase H2CO3 HCO3- + H3O+ H3O+ + HCO3- H2CO3 CO2 + H2O




Na+ Na+, HCO3-

Urin







Gambar 7. Antaraksi Kimia dalam Tubulus Ginjal Setelah Penghambatan Karbonat Anhidrase

Jaringan sel tubulus ginjal filtrat glomerolus

H2O + CO2 karbonat anhidrase H2CO3 HCO3- + H3O+ HCO3-

Na+

Penghambat Urin
(Na+, HCO3-, H2O)










BAB III
KESIMPULAN

Hidroklorotiazid bekerja sebagai diuretik dengan mekanisme:
• Menghambat co-transporter Na+ / Cl
• Vasodilator
• Menghambat enzim karbonat anhidrase



























DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, IONI 2000, 71, Depkes RI, Jakarta
Block, J.H. and Beale J.M., 2004, Textbook of Organic Medicinal and
Pharmaceutical Chemistry, 11th Edition, 604-608, Lippincott Williams
and Wilkins, Philadhelphia
Dollary, C., dkk., 1999, Therapeutic Drugs, 52-56, Churchill Livingstone, Toronto
Foye, William O., 1995, Prinsip-prinsip Kimia Medisinal, Edisi II, 865-867, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Gray, H.H., dkk., 2002, Kardiologi, Edisi IV, 57-64, Erlangga, Jakarta
Lacy, F.C., et all., 2003, Drug Information Handbook, 11th edition, 691-693, Lexi-Comp. Inc., USA
Neal, M.J., 2005, At a Glance Farmakologi Medis, Edisi V, 37, Erlangga, Jakarta
Nogrady, T., 1992, Kimia Medisinal: Pendekatan Secara Biokimia, 466-469, Penerbit ITB, Bandung
Rahardja, K., dan Tjay, T.H., 2002, Obat-obat Penting, Edisi V, PT. Alex Media Komputindo, Jakarta
Skach, W., et all., 1996, Penuntun Terapi Medis (Handbook of Medical Treatment), 196-201, Alih bahasa: Indraty Secilia, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Vander, dkk., 2001, Human physiology: The Mechanism of Body Function, 8th Edition, 549, Mc Graw-Hill Companies, Inc., Singapore

Tuesday, November 20, 2007

HIPERTENSI

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang paling lazim. Pevalensinya bervariasi menurut umur, ras, pendidikan, dan banyak variabel lain. Hipertensi arteri yang berkepanjangan dapat merusak pembuluh-pembuluh darah di dalam ginjal, jantung, dan otak, serta dapat mengakibatkan peningkatan insiden gagal ginjal, penyakit koroner, gagal jantung, dan stroke. Penurunan tekanan darah secara farmakologis yang efektif dapat mencegah kerusakan-kerusakan pembuluh darah dan terbukti menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas.

Diagnosis

Diagnosis hipertensi didasarkan pada peningkatan tekanan darah yang terjadi pada pengukuran berulang. Diagnosis digunakan sebagai prediksi terhadap konsekuensi yang dihadapi pasien, jarang meliputi pernyataan tentang sebab-akibat hipertensi.

Penelitian-penelitian epidemologis mengindikasikan bahwa resiko kerusakan ginjal, jantung dan otak secara langsung berkaitan dengan peningkatan tekanan darah. Bahkan hipertensi ringan ( tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/ 90 mm Hg) pada orang dewasa muda dan setengah baya pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kerusakan organ akhir/ sasaran. Risiko kerusakan organ akhir pada semua tingkat tekanan darah/ tingkat umur adalah lebih besar pada orang-orang kulit hitam, dan relatif jarang pada wanita premenepous dibandingkan pada pria. Faktor-faktor risiko positif lainnya termasuk merokok, hiperlipidemia, diabetes, manifestasi kerusakan organ akhir yang terdeteksi pada saat diangnosis, dan riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskuler.

Perlu dicatat bahwa diagnosis hipertensi bergantung pada pengukuran tekanan darah dan bukan pada gejalayang dilaporkan pasien. Pada kenyataanya hipertensi lazimnya tanpa gejala ( asimptomatis ) sampai segera terjadi kerusakan organ akhir secara jelas atau bahkan telah terjadi kerusakan tersebut.

Etiologi hipertensi

Penyebab hipertensi hanya dapat ditetapkan pada sekitar 10%-15% pasien. Penting untuk mempertimbangkan penyebab khusus pada setiap kasus karena beberapa di antara mereka perlu dilakukan pembedahan secara definitif : kontriksi arteri ginjal, koarktsi aorta, feokromositoma, penyakit Chushing, dan aldosteroneisme primer.

Monday, November 19, 2007

Hydrochlorothiazide

Why is this medication prescribed?

Hydrochlorothiazide, a 'water pill,' is used to treat high blood pressure and fluid retention caused by various conditions, including heart disease. It causes the kidneys to get rid of unneeded water and salt from the body into the urine.

This medicine is sometimes prescribed for other uses; ask your doctor or pharmacist for more information.

How should this medicine be used?

Hydrochlorothiazide comes as a tablet and liquid to take by mouth. It usually is taken once or twice a day. If you are to take it once a day, take it in the morning; if you are to take it twice a day, take it in the morning and in the late afternoon to avoid going to the bathroom during the night. Take this medication with meals or a snack. Follow the directions on your prescription label carefully, and ask your doctor or pharmacist to explain any part you do not understand. Take hydrochlorothiazide exactly as directed. Do not take more or less of it or take it more often than prescribed by your doctor.

Hydrochlorothiazide controls high blood pressure but does not cure it. Continue to take hydrochlorothiazide even if you feel well. Do not stop taking hydrochlorothiazide without talking to your doctor.

Other uses for this medicine

Hydrochlorothiazide may also be used to treat patients with diabetes insipidus and certain electrolyte disturbances and to prevent kidney stones in patients with high levels of calcium in their blood. Talk to your doctor about the possible risks of using this medicine for your condition.

What special precautions should I follow?

Before taking hydrochlorothiazide,

  • tell your doctor and pharmacist if you are allergic to hydrochlorothiazide, sulfa drugs, or any other drugs.
  • tell your doctor and pharmacist what prescription and nonprescription medications you are taking, especially other medicines for high blood pressure, anti-inflammatory medications such as ibuprofen (Motrin, Nuprin) or naproxen (Aleve), corticosteroids (e.g., prednisone), lithium (Eskalith, Lithobid), medications for diabetes, probenecid (Benemid), and vitamins. If you also are taking cholestyramine or colestipol, take it at least 1 hour after hydrochlorothiazide.
  • tell your doctor if you have or have ever had diabetes, gout, or kidney, liver, thyroid, or parathyroid disease.
  • tell your doctor if you are pregnant, plan to become pregnant, or are breast-feeding. If you become pregnant while taking hydrochlorothiazide, call your doctor immediately.
  • if you are having surgery, including dental surgery, tell the doctor or dentist that you are taking hydrochlorothiazide.
  • you should know that this drug may make you drowsy. Do not drive a car or operate machinery until you know how this drug affects you.
  • remember that alcohol can add to the drowsiness caused by this drug.
  • plan to avoid unnecessary or prolonged exposure to sunlight and to wear protective clothing, sunglasses, and sunscreen. Hydrochlorothiazide may make your skin sensitive to sunlight.

What special dietary instructions should I follow?

Follow your doctor's directions. They may include following a daily exercise program or a low-salt or low-sodium diet, potassium supplements, and increased amounts of potassium-rich foods (e.g., bananas, prunes, raisins, and orange juice) in your diet.

What should I do if I forget a dose?

Take the missed dose as soon as you remember it. However, if it is almost time for your next dose, skip the missed dose and continue your regular dosing schedule. Do not take a double dose to make up for a missed one.

What side effects can this medication cause?

Frequent urination should go away after you take hydrochlorothiazide for a few weeks. Tell your doctor if any of these symptoms are severe or do not go away:

  • muscle weakness
  • dizziness
  • cramps
  • thirst
  • stomach pain
  • upset stomach
  • vomiting
  • diarrhea
  • loss of appetite
  • headache
  • hair loss

If you experience any of the following symptoms, call your doctor immediately:

  • sore throat with fever
  • unusual bleeding or bruising
  • severe skin rash with peeling skin
  • difficulty breathing or swallowing

HYDROCHLOROTHIAZIDE

HYDROCHLOROTHIAZIDE

Nama Generik : Hydrochlorothiazide (hy dro klor o THY a zide)
Nama Dagang : Aldactazide, Aldoril, Capozide, Dyazide, Hydrodiuril, Inderide, Lopressor, Maxzide, Microzide, Moduretic, Timolide, Vaseretic, Carozide, Diaqua, Esidrix, Ezide, Hydro Par, HydroDIURIL, Loqua, Microzide, Oretic, Zestoretic, Prinzide.

EFEK OBAT ( INDIKASI )

Hydrochlorothiazide adalah suatu "water pill" (diuretic) yang membantu ginjal mencegah penyerapan garam berlebih dan cairan yang tidak diinginkan dalam tubuh. Hal ini menyebabkan produksi urin lebih meningkat.
Hydrochlorothiazide ini digunakan untuk mengurangi edema yang disebabkan pada kegagalan jantung congestive, cirrhosis hati, kegagalan ginjal kronis, pengobatan korticosteroid, sindrom nephrotik, serta hipertensi.
Hydrochlorthiazide juga dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terkena diabetes insipidus dan untuk mencegah batu ginjal pada pasien dengan kadar kalsium yang tinggi dalam darah.

EFEK SAMPING

1. Lemah
2. Hipotensi
3. Ruam kulit
4. Diare
5. Sulit bernafas
6. Bengkak pada muka, bibir, lidah, dan tenggorokan
7. Lemah atau nyeri otot
8. Kehilangan nafsu makan
9. Nyeri perut
10. Sakit kepala
11. Pandangan kabur
12. Kram
13. Rambut rontok
14. Mulut kering, sering merasa kehausan, nausea, vormiting
15. Impoten
16. Pankreatitis
17. Anaphylaxis
18. Urin merah atau gelap
19. Ikterus pada kulit dan mata

INSTRUKSI

Hydrochlorothiazide ini tentu dapat digunakan apabila diresepkan oleh dokter. Obat ini dapat berbentuk tablet dan cairan yang dapat langsung diminum secara oral. Pakailah obat ini sesuai perintah, jangan memakainya dengan dosis yang kurang ataupun berlebih dari apa yang telah diresepkan.
Hydrochlorothiazide biasanya diberikan 1x ataupun 2x sehari. Apabila hanya digunakan 1x sehari maka minumlah pada pagi hari. Sedangkan apabila digunakan 2x sehari maka minumlah pada pagi hari dan sore hari menjelang mandi sebelum pukul 6 sore karena untuk mencegah pengeluaran urin yang berlebih.
Hydrochlorothiazide hanya dapat mengontrol hipertensi bukan untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu lanjutkan penggunaan walaupun sudah dirasa sehat. Jangan pernah berhenti mengkonsumsinya sebelum bertanya kepada dokter.

Dosis
Dosis min/max dewasa : 12.5mg/200.0mg
Dosis min/max anak-anak : 1.0mg/kg/3.3mg/kg
1. Anak 6 bulan sampai 12 tahun : 1-2 mg/kg 1 atau 2x sehari
2. Anak-anak di bawah 6 bulan : 3mg/kg 2x sehari
Total pemakaian Hydrochlorothiazide pada anak-anak berumur dibawah 2 tahun tidak boleh lebih dari 37,5 mg/hari dan pada anak-anak umur 2-12 tahun tidak boleh melebihi 100mg/hari.
Dosis manula : 12,5mg

Beberapa dosis yang sesuai dengan indikasi :
1. Edema :
a. 1 tablet (25 mg) 2x sehari secara oral
b. 2 tablet (50 mg) 2x sehari secara oral
c. Setengah tablet (12,5 mg) 2x sehari secara oral
d. 2 tablet (50 mg) 1x sehari secara oral
e. 1 tablet (25 mg) 1x sehari secara oral
f. 1 tablet (50 mg) 2x sehari secara oral
g. 1 tablet (50 mg) 1x sehari secara oral
h. 2 tablet (100 mg) 1x sehari secara oral
i. 1 tablet (100 mg) 1x sehari secara oral
2. Hipertensi :
a. 1 tablet (25 mg) 2x sehari secara oral
b. 2 tablet (50 mg) 2x sehari secara oral
c. Setengah tablet (12,5 mg) 2x sehari secara oral
d. 2 tablet (50 mg) 1x sehari secara oral
e. 1 tablet (25 mg) 1x sehari secara oral
f. 1 tablet (50 mg) 2x sehari secara oral
g. 1 tablet (50 mg) 1x sehari secara oral
h. 2 tablet (100 mg) 1x sehari secara oral
i. 1 tablet (100 mg) 1x sehari secara oral

Penyimpanan obat :
Simpan pada suhu ruangan bertemperatur sekitar 58-86 derajat.

Larangan penyimpanan obat:
1. Hindari dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan
2. Jauhkan dari cahaya
3. Jangan simpan di kamar mandi, di dekat tempat pencucian piring, dan tempat lembab lainnya, karena dapat menyebabkan obat cepat rusak
4. Jangan simpan di dalam lemari pendingin
5. Jangan simpan obat yang telah expired


PERINGATAN

Interaksi Obat :
Hydrochlorothiazide dapat meningkatkan efek alkohol. kah janganlah mengkonsumsi alkohol selama memakai obat ini. Apabila hydrochlorothiazide ini digunakan dengan obat tertentu maka dapat meningkatkan efek onat ini sendiri, walaupun demikaian hal in dapat pula mengakibatkan efek obatnya menjadi menurun. oleh karena itu, penting nertanya kepada dokter bila ingin mengkombinasikan hydrochlorothiazide beberapa obat-obat di bawah ini :
1. Barbiturates, seperti phenobarbital
2. Cholestyramine (Questran)
3. Colestipol (Colestid)
4. Corticosteroids, seperti prednisone dan ACTH
5. Digoxin (Lanoxin)
6. Insulin atau Micronase untuk mengobati diabetes
7. Lithium (Lithonate)
8. Narcotics, seperti Percocet
9. Obat anti inflamasi nondteroid, seperti Naprosyn
10. Norepinephrine (Levophed)
11. Obat hipertensi lainnya, seperti Aldomet
12. Tubocurarine

Kontraindikasi penyakit obat :
Paling penting :
Hypokalemia, Hypomagnesemia, Hyponatremia, Mild Pre-Eclampsia, dan Hipertensi pada kehamilan
Penting :
Hypercalcemia, Oliguria
Kemungkinan penting :
Pancreatitis akut, Diabetes Mellitus, Penyakit hati , Gout, Hypercholesterolemia, Sympathectomy, Systemic Lupus Erythematosus

Sebelum memakai hydrochlorothiazide ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Beritahu dokter atau farmasis bila memeiliki alergi pada obat tertentu
2. Beritahu dokter atau farmasis bila memiliki penyakit diabetes, gout, ginjal, hati, tiroid dan paratiroid
3. Beritahu dokter atau farmasis bila sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui. Apabila pada saat memakai obat ini tiba-tiba hamil maka segeralah mengubungi dokter
4. Bila sedang operasi, termasuk operasi gigi, beritahu dokter atau dokter gigi tersebut bahwa anda sedang menggunakan hydrochlorothiazide
5. Obat ini dapat menyebabkan kantuk, maka jangan menhendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin sampai anda benar-benar tahu apa efek obatnya terhadap anda.
6. Ingat nahwa alkohol dapat menambah rasa kantuk akibat ibat ini
7. Hindari kontak langsung dengan cahaya dengan menggunakan pakaian yang panjang, kacamata, dan sunscreen. Obat ini dapat menyebabkan anda sensitif dengan cahaya.

Hydrochlorothiazide

__a.efek obat (indikasi)__
Hydrochlorothiazide merupakan golongan obat diuretic ( water pill). Hydrochlorothiazide bekerja dengan menahan garam dan penyerapan kembali air diginjal, menyebabkan peningkatan pengeluaran urin (diuresis). Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati tekanan darah. Tetapi proses penurunan tekanan darahnya tidak diketahui dengan baik.( http://www.drugs.com/cdi/hydrochlorothiazide.html); (http://www.medicinenet.com/hydrochlorothiazide/article.htm)
__b. efek samping__
Sebagaimana obat lain, selain mempunyai efek yang menguntungkan hydrochlorothiazide juga memiliki efek yang merugikan. Efek samping yang umum disebabkan oleh obat ini yaitu:
1. meningkatnya frekuensi buang air kecil
2. mata kabur
3. diare
4. kepeningan
5. eriksi tidak bertahan lama
6. apabila berdiri dari duduk merasa pusing
7. kram
8. dahaga
9. nyeri perut
10. muntah
11. hilang selera makan
12. rambut rontok
13. mengantuk

Apabila merasakan hal – hal yang ada dibawah ini maka segera hubungi dokter, gejalanya meliputi:
1. sakit tenggorokan disertai dengan demam
2. perdarahan yang tidak biasa
3. adanya ruam kulit dengan adanya kulit yang mengelupas
4. sesak napas disertai susah menelan
Apabila anda mengalami efek yang serius maka segera hubungi FDA/ BPOM
(http://www.drugs.com/cdi/hydrochlorothiazide.html);(http//www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/medmaster/a682571.html )


__
c. instruksi
__ CARA PENGGUNAAN
Bentuk sediaan obat ini adalah tablet dan sirup cara pemberiaannya lewat oral. Pemberiannya biasanya satu kali sehari atau dua kali sehari. Apabila diminum sekali sehari maka diminum pada pagi hari. Apabila diminum dua kali sehari maka diminum pada pagi dan sore. Dalam pemakaian obat ini dapat dengan makan atau snack dan bisa juga tidak. Ikuti petunjuk yang ada dilabel obat, apabila ada hal yang tidak diketahui maka tanyakan pada dokter atau apoteker untuk menjelaskan hal – hal yang tidak dimengerti.
(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/medmaster/a682571.html)
__d. peringatan __
HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Sebelum menggunakan hydrochlorothiazide maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
1. Apabila mempunyai alergi terhadap sulfa maka ada kemungkinan juga alergi terhadap Hydrochlorothiazide, karena hydrochlorothiazide mempunyai kesamaan struktur kimia.(http://www.medicinenet.com/hydrochlorothiazide/article.htm)
2. Susah buang air kecil
3. jika dalam penggunaan obat cholestyramine or colestipol, maka obat itu diminum 1 jam setelah minum hydrochlorothiazide;(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/medmaster/a682571.html)]
4. jika dalam keadaan hamil; tiba – tiba hamil; atau berencana untuk hamil maka beritahukanlah kepada doktermu
5. jika akan operasi termasuk untuk gigi maka beritahukan pada doktermu bahwa kamu sedang menggunakan hydrochlorothiazide
6. setelah mengkonsumsi obat ini ada baiknya kamu tidak mengendarai kendaraan sendiri
7. alkohol dapat meninggkatkan efek samping dari hydrochlorothiazide, yaitu mngantuk
8. gunakan pelindung dari cahaya matahari, karena dengan penggunaan hydrochlorothiazide akan meningkatkan sensitifitas kulit terhadap cahaya matahari
9. apabila anda mengkonsumsi obat diabetes maka efektifitas dari kerja obat itu akan berkurang

Apabila kamu lupa minum obatnya maka setelah ingat segera minum obatnya walaupun itu mendekati waktu minum kedua. Lalu jarak minum paruh waktu yang kedua juga sesuai aturan. Perlu diingat bahwa jangan meminum obat ini sekali minum dengan dua dosis. (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/medmaster/a682571.html)

CARA PENYIMPANAN OBAT YANG BENAR
1. Tutup tempat obat dengan rapat
2. Jauhkan dari jangkauan anak kecil
3. Simpan dalam suhu kamar dan jauhkan dari cahaya matahari
4. Jangan dibekukan
5. Apabila melebihi tanggal kadaluarsa jangan digunakan lagi
(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/medmaster/a682571.html)

Interaksi obat
Hydrochlorothiazide diekskresi melalui ginjal dengan cepat kemungkinan dosis akan berkurang apabila mengalami kelainan ginjal. Selama penggunaan hydrochlorothiazide kadar asam urat kemungkinan akan meningkat, dan jarang terjadi encok. Hydrochlorothiazide akan mengurangi ekskresi litium yang dikeluarkan melalui ginjal dan dapat meningkatkan kadar ketoksikan dari lithium itu sendiri.



PENGEMBANGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF UNTUK PENENTUAN KADAR CAMPURAN OBAT ANTIHIPERTENSI INHIBITOR ACE (KAPTOPRIL, ENALAPRIL DAN LISINOPRIL) DAN DIURETIKA (HIDROKLOROTIAQZIDA) DALAM SEDIAAN FARMASI
Deni Rahmat*, Kurnia Firman, Slamet Ibrahim
Telah dikembangkan metode spektrofotometri ultraviolet derivatif pertama dan kedua untuk penentuan kadar obat antihipertensi dalam campurannya dengan hidroklorotiazida, yaitu tablet kaptopril-hidroklorotiazida, enalapril maleat-hidroklorotiazida dan lisinopril-hidroklorotiazida hasil terbaik penentuan kadar zat antihipertensi tersebut diperoleh dengan menggunakan panjang gelombang “zero-crossing” hidroklorotiazida pada 220 nm dan 249 nm secara spektrofotometri derivatif pertama. Kecermatan dan keseksamaan metode ditentukan secara “spike placebo recoveries”, Perolehan kembali kaptopril, enalapril maleat dan lisinopril 1,78)%.1,85) dan (103,141,73), (101,25berturut-turut adalah (103,08 Hasil terbaik penentuan kadar hidroklorotiazida diperoleh dengan menggunakan panjang gelombang 264 dan 283 nm secara spektrofotometri derivatif pertama. Perolehan kembali hidroklorotiazida dalam campurannya dengan kaptopril, enalapril maleat dan lisinopril dalam 0,85) dan0,34), (100,55larutan simulasi berturut-turut adalah (99,39 0,39)%.(100,24

Saturday, November 17, 2007

KROMATOGRAFI

MAKALAH KROMATOGRAFI
HPLC
GC
ELEKROFORESIS


Oleh :
Chrisye Dewi Puspita
058114072

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007

PENDAHULUAN

Sekarang ini, kromatografi sangat diperlukan dalam kefarmasian dalam memisahkan suatu campuran senyawa. Dalam kromatografi, koponen-komponen terdistribusi dala dua fase. Salah satu fase adalah fase diam.
Transfer massa antara fase bergerak dan fase diam terjadi bila molekul-molekul campuran serap pada permukaan partikel-partikel atau terserap di dalam pori-pori partikel atau terbagi kedalam sejumlah cairan yang terikat pada permukaan atau didalam pori.
Kromatografi dibagi menjadi beberapa macam, dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa keterangan tentang beberapa macam kroatografi, antara lain HPLC ( High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas Chromatography) dan Elektroforesis.

HPLC
( High Performance Liquid Chromatography)

Dalam beberapa tahun ini teknologi HPLC dan pemakaiannya sangat berkembang da walaupun nisbi mahal, HPLC telah menjadi metode analisis rutin dan bahkan preparative pada banyak laboratorium.

Alat HPLC niaga terdiri atas system pencampur pelarut yang sangat canggih yang mampu menghasilkan campuran landaian yang mengandung sampai empat linarut yang berbeda, pompa yang mampu menghasilkan tekanan sampai 6000psi atau 10.000 psi, kolom yang mengandung fase diam (atau lebih tepat penyangga), dan system pendeteki sinambung yang bermacam-macam jenisnya. Yang paling sering ditemukan, seluruh radas itu dipimpin dan dikendalikan oleh mikroprosesor.

Kolom yang tersedia mempunyai banyak sekali pelat teori (lebih dari 100.000 untuk kolom 100cm), dan kromatografi dilakukan dalam kondisi yang mendekati kondisi ideal demikian rupa sehingga dapat diperoleh pemisahan yang sangat baik; seringkali, hasil dapat diperoleh dalam beberapa menit dan ditafsirkan secara kuantitatif dengan ketepatan yang lumayan. Cuplikan dapat dipisahkan secara preparative.

Sedikit banyak HPLC dan GC saling melengkapi. GC telah dilengkapi instrumen dan dikembangkan demikian rupa sehingga daya pisah yang tinggi dan hasil kuantitatif mudah diperoleh. Akan tetapi, GC mensyaratkan bahwa seyawa yang dipisahkan haruslah atsiri. HPLC mempunyai pembatas yang sebanding yaitu cuplikan harus larut didalam zat cair. Akan tetapi ini bukan pembatas yang berat., dan setidaknya HPLC dapat dipakai untuk sebagia besar senyawa tak atsiri dan senyawa berbobot molekul tinggi. Selain itu HPLC dapat dipakai untuk senyawa anorganik, yang sebagian besar tidak atsiri. HPLC biasanya dilakukan pada suhu kamar. Jadi, senyawa yang tidak tahan panas dapat diangani dengan mudah.

Pada metode kromatografi cair ini digunakan kolom tabung gelas denganberacam diameter.parikel dengan dimensi yang bervariasi digunakan sebagai penunjang stasioner. Banyaknya cairan pada kolom jumlahnya sedemikian rupa sehingga hanya cukup menghasilkan sedikit tekanan untuk memelihara aliran fase bergerak yang seragam. Secara keseluruhan pemisahan ini memakan waktu lama. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menambah laju aliran tanpa mengubah tinggi piringan teoritis kolom.

Penurunan ukuran partikel penunjang stasioner tidak selalu menguntungkan. Kromatografi cair kinerja tinggi atau High Performance Liquid Chromatography (HPLC) berbeda dari kromatografi cair klasik. HPLC menggunakan kolom dengan diameter umumnya kecil, 2-8 mm dengan ukuran partikel penunjang ; sedangkan laju aliran dipertinggi dengan tekanan yang tinggi.

Prinsip HPLC
Luas puncak kromatografi pada kurva elusi dipengaruhi oleh tiga proses perpindahan massa yaitu difusi Eddy, difusi longitudinal dan transfer massa tidak setimbang. Sedangkanparameter-parameter yang menentukan proses berlangsungnya proses-prosess tersebut adalah : laju aliran, ukuran partikel, laju difusi dan ketebalan stasioner.

Penunjang
Penunjang fase diam harus tahan erhadap tekanan. Biasanya penunjang anorganik bersifat stabil dan tahan sampai tekanan 600 atm. Struktur dengan pori-pori yang besar akan rusak bila diberi tekanan tinggi. Penukar ion, mempunyai permeabilitas yang rendah bila diberi tekanan.

Penunjang yang baik adalah silica gel dan alumina. Penunjang dengan bahan kimia di permukaannya (bonded phase) mempunyai kelebihan karena tidak perlu dijenuhkan lagi permukaannya oleh fase cair dan idak memerlukan prekolom. Fase diam terikat secara kovalen dengan permukaan zat padat penunjang sehingga diharapkan tidak mudah lepas dan mengkontaminasi eluen.

Penunjang dengan kemampuan penukar ion pemakaiannya terbatas,karena mudah terkompresi,tetapi saat ini bermacam resin sintetis yang taha tekanan sampai 200 amosfer sudah dapat diperoleh. Resin demikian mempunyai kapasitas penukar ion antara 3 sampai 5 meq/g.

Penunjang fase diam untuk kromatografi eksklusi lebih rumit daripada resin penukar ion. Hamper semua ipe gel dalam kolom untuk jenis eksklusi tidak tahan tekanan. Penyusutan volume akan terjadi sehingga permeabilitasnya turun dan akibatnya efisiensi pemisahan menurun.

Pemakaian
HPLC dengan prinsip kromatografi adsorpsi banyak digunakan pada industri farmasi dan pestisida. Zat-zat dengan kepolaran berbeda, yaitu antara sedikit polar sampai polar dapat dipisahkan dengan HPLC berdasarkan partisi cair-cair. Asam-asam nukleat dapat dipisahkan dengan kolom penukar ion yang dikombinasikan dengan kolom butiran berlapiskan zat berpori.

Penukar ion gel silica yang dimodifikasi secara kimia dan penukar ion klasik. Asam-asam nukleat telah terpisahkan pada PLB, waktu analisisnya lebih pendek. Morfin, heroin dan semacamnya telah dapat dipisahkan pada resin Zipax-SAX. Penukar ion gel silica yang dimodifikasi secara kimia mempunyai kapsitas tukar tinggi, vitamin-vitamin yang larut dalam air misalkan telah dapat dipisahkan.

Pemakaian HPLC pada kromatografi eksklusi dilakukan dengan kolom panjang, tujuan utama kerjanya tetap sama yaitu penentuan berat molekul polimer dan masalah-masalah biokimia. Pada umumnya teknik ini dapat digunakan pada setiap metode kolom kromatografi.



























GC
(Gas Chromatography )

Kromatografi Gas adalah metode kromatografi pertama yang dikembangkan pada jaman instrument dan elektronika yang telah merevolusikan keilmuan selama lebih dari 30 tahun. Sekarang GC dipakai secara rutin di sebagian besar laboratorium industri dan perguruan inggi. GC dapat dipakai untuk setiap campuran yang komponennya atau akan lebih baik lagi jika semua komponennya mempunyai tekanan uap yang berarti pada suhu yang dipakai untuk pemisahan.

Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap danbergerak bersama-sama dengan fase gerak yang berupa gas. Pada kromatografi cair pembatasan yang bersesuaian ialah komponen cairan harus mempunyai kelarutan yang berarti didalam fase gerak yang berupa cairan. Secara sepintas tampaknya pembatasan tekanan uap pada

Kromatografi gas lebih serius daripada pembatasan kelarutan pada kromatografi cair, secara keseluruhan memang demikian. Akan tetapi, jika kita ingat bahwa suhu sampai 400¬0C dapat dipakai pada kromatografi gas dan bahwa kromatografi dilakukan secara cepat untuk meminimumkan penguraian, pembatasan itu menjadi tidak begitu perlu. Disamping itu, pada KG, senyawa yang tak atsiri sering dapat dibah menjadi turunan yang lebih atsiri dan lebih stabil sebelum kromatografi.

Dalam kromatografi gas, fase bergeraknya adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak dan fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat penunjangnya.

Ada beberapa kelebihan kromatografi gas, diantaranya kita dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi. Gs dan uap mempunyai viskositas yang rendah, demikian juga kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat, sehingga analisis relative cepat dan sensitifitasnya tinggi. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat-zat terlarut. Kelemahannya adalah tehnik ini terbatas unruk zat yang mudah menguap.

Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik utnuk campuran sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen. Komponen campuran dapat diidentifikasikan dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom.waktu tambat diukur dari jejak pencatat pada kromatogram dan serupa dengan volumetambat dalam KCKT dan Rf dalam KLT. Dengan kalibrasi yang patut, banyaknya (kuantitas) komponen campuran dapat pula diukur secara teliti . kekurangan utama KG adalah bahwa ia tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan campuran pada tingkat g mungkin dilakukan; tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika tidak ada metode lain.

Pada KG dan KCKT, kolom dapat dipakai kembali dan jika dirawat dengan baik dapat tahan lama. Perawatan harus dilakukan karena kolom dapat sangat mahal.

Fase diam pada KG biasanya berupa cairan yang disaputkan pada bahan penyangga padat yang lembab , bukan senyawa padat yang berfungsi sebagai permukaan yang menyerap (kromatografi gas-padat). Sistem gas-padat telah dipakai secara luas dalam pemurnian gas dan penghilangan asap, tetapi kurang kegunaannya dalam kromatografi. Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala macam cmapuran.

Satu-satunya pembatas pada pemilihan cairan yang demikian ialah bahwa zat cair itu harus stabil dan tidak atsiri pada kondisi kromatografi. Akan tetapi, keadaan ini berubah akibat pengembangan fase terikat dan pemakaian kolo kapiler atau kolom tabung terbuka yang sangat efisien. Pada fase terikat, cairan sebenarnya terikat pada penyangga padat atau pada dinding koplom kapiler, tidak hanya disaputkan begitu saja.
Pemakaian detector untuk menganalisis efluen kromatograf secara sinambung telah memungkinkan adanya KG dan KCKT. Pada KG, tersedianya berbagai detector, pemakaiannya yang umum untuk banyak jenis senyawa, dan tingkat kepekaannya yang tinggi telah memungkinkan penentuan secara teliti berbagai jenis komponen dalam kisaran yang besar, kadang-kadang dalam jumlah yang sangat kecil. Tersedianya detector selektif, misalnya detector yang hanya mendeteksi senyawa yang mengandung P, N, atau S merupakan hal yang sangat penting pula. Ini berbeda dengan KCKT yang hanya menyediakan lebih sedikit jenis detector dan kurang peka.

Petunjuk cara kerja
Walaupun beberapa system KG sangat rumit, pada dasarnya cara kerjanya sama. Jika KG telah dinyalakan maka dapat dilakukan beberapa langkah berikut ini ;

1. istrumen diperiksa, terutama jika tidak dipakai terus-menerus. Ini dilakukan untuk mengecek apakah telah dipasang kolom yang tepat, apakah septum injector tidak rusak (apakah ada lubang besar atau bocor karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah tutup tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan baik, dan apakah detector yang terpasang sesuai.

2. aliran gas kekolom dimulai atau disesuaikan. Ini dilakukan dengan membukan katup utama pada tangki gas dan kemudian memutar katup (diafragma) sekunder kesekitar 15psi dan membuka katup jarum sedikit. Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk kolom kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system dan melindungi kolom dan detector terhadap perusakan secara oksidasi. Dalam banyak instrument modern, aliran gas dapat diatur dengan rotameter atau aliran otomatis atau pengendali tekanan, atau dapat dimasukkan melalui modul pengendali berlandas mikroprosesor. Apapun jenisnya, sambungan system (terutama sambungan kolom) harus dicek dengan larutan sabun untuk mengetahui apakah ada yang bocor, atau dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran (SNOOP),atau dapat juga dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.


3. kolom dipanaskan sampai suhu awal yang dikehendaki. Ini dilakukan, pada instrument buatan lama, dengan memutar transformator tegangan peubah yang mengendalikan gelungan pemanas dalam tanur kesekitar 90 V.











ELEKTROFORESIS

Definisi
Tehnik pemisahan komponen-komponen dengan pengaruh arus listrik sehingga terjadi laju perpindahan disebut sebagai suatu elektroforesis atau elektrokromatografi. Secara luas teknik ini diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu elektroforesis free boundary, elektroforesis wilayah dan elektroforesis kontinyu.

Prinsip Elektroforesis
Jika suatu fase zat bermuatan, diberi beda potensial, fase tersebut akan berpindah sepanjang medium yang kontinyu kearah katoda atau anoda sesuai dengan muatan partikel. Fenomena ini adalah elektroforesis.

Dasar elektroforesis adalah pembentukan suatu ketidakhomogenan atau gradasi konsentrasi sepanjang system. Koloid, protein enzim menunjukkan mobilitas elektroforesis spesifik dan titik isoelektrik yang dapat digunakan untuk identifikasi zat-zat spesifik. Pemisahan dapat dilakukan bila senyawa-senyawa yang telah terpisah tidak secara spontan bercampur kembali akibat sirkulasi konvektif.

Keterbatasan elektroforesis free boundary dapat diatasi secara parsial dengan melakuka kromatografi pendahuluan sebelum proses elektroforesisnya sendiri. Inidilakukan dengan mencampurkan larutan buffer dan memvariasikan konsentrasi nonelektrolit yang larut, kemudian biarkan merayap vertical pada tabung elektroforesis yang akan digunakan, sehingga terbentuk gradient perbedaan kerapatan akibat gravitasi.

Di pihak lain bila perpindahan elektroforesis dilakukan pada suatu medium berpori, wilayah perpindahannya tidak dipengaruhi oleh gradient kerapatan dan temperature. Pada medium tersebut aliran cairan dalam tabung berbanding terbalik terhadap kuadrat dari jari-jari penampang melintang tabung. Kertas saring, agar, kanji, gelatin, butiran-butiran kaca umumnya digunakan karena memiliki rongga kapiler. Kertas penyaringlah yang palng sering digunakan karena pemisahan yang sempurna dapat dilakukan dan mudah dikelola. Pemisahan dapat dilakukan baik horizontal ataupun erikal dan interferensi anomaly paling kecil pada boundary.
Pada umumnya istilah elektrokromatografi digunakan untuk pemisahan berdasarka perbedaan transport fisik zatterlarut yang bermuatan di dalam medium kertas akibat pengaruh gradient potensial.

Perpindahan partikel bermuatan dalam kertas tergantung pada tanda dan besarnya muatan pada zat terlarut, permukaan, muatan, tegangan yang digunakan, konsentrasi elektrolit, kuat io, pH, temperatur, viskositas, adsortiitas zat terlarut dan sifat-sifat fisika kimia lainnya medium migrasi. Ion yang berpindah pada suatu arah juga mempengaruhi mobilitas ion-ion lain yang bergerak pada arah yang berlawanan.

Peralatan dan Metodologi
Secarik kertas saring dibasahi dengan suatu elektrolit dan direntangkan secara horizontal diantara dua ruang elektroda yang berbeda potensial. Sampel diletakkan ditengah-tengah lembaran kertas. Lembaran kertas diletakkan diantara dua lempeng kaca untuk mencegah penguapan elektrolit.

Arus searah digunakan pada beda teganan sekitar 100-300 volt, elektroda yang digunakan karbon dari platina. Kombinasi elektromatografi dengan aliran pelarut yang simultan untuk memisahkan zat-zat inik juga telah dikembangkan.

Elekroforesis Wilayah
Ada berbagai factor yang mempengaruhi laju perpindahan elektroforesis wilayah. Factor-faktor yang mempengaruhi pergerakan ion adalah mobilitas ion, tipe resolusinya, macam larutan buffernya, pH yang digunakan, kuat ion zat terlarut, temperature, ada atau tidaknya fenomena elektrolisis atau elektroosmosis.

Medium yang umum digunakan adalah kertas saring, selulosa, asetat, gel seperti kanji, poliakrilamida dan bubuk gel.

Elektroforesis Tirai (Elektroforesis Kontinyu)
Elektroforesis kontinyu yaitu suatu elektroforesis yang dilakukan secara kontinyu. Suatu tirai dari kertas saring digunakan yang mana terendam dalam larutan buffer. Suatu aplikator digunakan untuk meneteskan sampel. Sampel masuk dalam aplikator dari suatu reservoir sampel. Kedua ujung kertas saring dalam bentuk alur tercelup dalam dua ruang elektroda. Dengan pemberian tegangan, partikel zat terlarut mulai bergerak dan komponen terpisahkan dalam berbagai permukaan.

Pemakaian Analitik Elektrokromatografi
Homogenitas wilayah elektrokromatografi adalah suatu criteria penting untuk memperoleh kemurnian. Teknik elektrokromatografi pada kertas telah digunakan untuk pemisahan komponen-komponen yang sulit dipisahkan. Pemisahan anorganik segera dapat dil;akukan melalui agen pengompleks. Agen ini mempengaruhi laju kromatografi sedangkan kompleks elektromigrasi mempunyai afinitas adsorbsi yang berbeda terhadap medium migrasi serta berbagai bentukion sederhana misalkan Ag, Ni berpindah kearah katoda, tetapi dengan penambahan EDTA, Ni saja yang pindah ke anoda. Logam-logam alkali dan magnesium juga dipisahkan. Pemisahan Pb, Pt, Rh, Ir, Os, Ru, dan Au secara kuantitatif pada secarik kertas diperoleh dengan elektrokromatografi dalam berbagai larutan elektrolit.
Setelah kertas, medium lain yang tepat untuk percobaan elektromigrasi adalah kanji. Pemisahan pada umumnya dilaksanakan dalam kolom, dan kadangkala untuk sejumlah komponen mempunyai beberapa kelebihan disbanding dengan kertas. Teknik elektrokromatografi banyak digunakan pada pemisahan ion-ion anorganik dan diagnosis klinik.

Osmosis Terbalik
Teknik ini adalah teknik yang sedang berkembang. Diantara pemakaiannya adalah pengolahan air limbah. Biasanya air dibersihkan dengan mengeluarkan kotoran dari air,tetapi dengan cara ini justru air diperas keluardari limbah air. Limbah berupa air garam dimasukkan melalui bagian celah sel. Pada bagian bawah air garam akan tersekat oleh suatu membrane semipermeabel yang umumnya terbuat dari polistirena, cellophane polivinil klorida atau etil selulosa.

Air segar cenderung untuk bergerak melalui membrane semi permeable menuju bagian yang konsentrasi garamnya tinggi, tetapi dengan memberikan tekanan yang cukup tinggi pada bagian air garamnya, tekanan osmosis normalinya dapat dibalik, berarti aliran dan keluar pada saluran bagian bawah. Osmosis terbalik tidak mempunyai pemakaian analitik.


Elektrodialisis
Metode ini merupakan metode yang masih dapat dikembangkan, yang mana ion-ion positif dan negative dalam suatu aliran air rawa-rawa dipisahkan dengan melakukannya sepanjang membrane penukar ion dibawah pengaruh medan listrik.air rawa-rawa dimasukkan melalui tiga saluran pada bagian atas sel. Suatu medan listrik dengan kutub membuat ion positif dan ion negative bergeser pada arah yang berlawanan.

Dengan pemilihan membrane penukar ion yang tepat, maka dimungkinkan menjadikan membrane kation permeable terhadap kation dan penukar anion yang permeable terhadap anion. Dengan pengaturan kondisi aliran, air yang keluar sebagai efluen pada penyalur bagian tengah akan mengandung garam yang lebih rendah disbanding kedua penyalur lainnya.teknik ini sebenarnya dasar pengembangan tekik osmosis terbalik.




























DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia.Edisi IV.hal. 102. DepKes RI. Jakarta

Gritter, dkk., 1991, Pengantar Kromatografi. Hal.34-35,186. ITB Press.
Bandung

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Hal.160,166, 167-168. UI
Press. Jakarta

Mulja, Muhammad & Suharman, 1995, Analisis Instrumental. Hal 150.
Airlangga University Press. Surabaya